Sejak hari itu hari-hari menjadi lebih tenang
Kutukan overthinking yang kupelihara bertahun-tahun
Aku tumbuh sebagai seorang overthinker kelas kakap.
SMA? Overthinking soal PTN. Kuliah? Overthinking soal masa depan — apakah aku akan laku di job market, apalagi di spouse market. Dan sekarang? Sejak lulus sampai hari aku bertemu driver taksi itu, aku terus overthinking: sanggupkah aku membawa keluargaku ke taraf hidup yang kumimpikan?
Tapi sejak hari itu mataku terbuka. Semua kekhawatiran itu tidak hanya sia-sia — mereka justru jadi beban yang menghambat langkahku sendiri. Malam-malamku habis berguling tak bisa tidur, dan paginya aku datang dengan tenaga setengah hati.
Sejak hari itu aku paham: kalau memang jatahku, ia tak akan pergi kemana.
Kisah taksi hijau yang mengubah caraku pandang
Liburan akhirnya tiba. Meskipun harus lembur di akhir pekan, aku nekat staycation bersama keluarga. Kupesan taksi hijau menuju hotel di Kabupaten Bogor.
Belum sempat mobil tiba, driver pertama menghubungi: “Maaf pak, mobil saya perlu dicharge dulu, khawatir tidak cukup sampai tujuan. Bapak cancel saja dan cari driver lain.”
Oke, pesan ulang. Driver baru datang — eh, mobilnya perlu dicharge juga. Duh.
Mulai hopeless. Kami putuskan menunggu di pool taksi. 15 menit berlalu… driver kedua pun kelihatannya masih butuh waktu lebih lama untuk mengisi daya.
Tapi dia baik. Dia membantu mencarikan driver lain. Sayangnya, driver yang direkomendasikan juga tidak fully charge — tidak sanggup untuk perjalanan jauh.
Saat kami hampir menyerah, telepon berdering. Driver pertama. “Pak, mobil saya sudah penuh. Saya siap antar Bapak.”
Tanpa pikir panjang, saya setuju.
Pelajaran sederhana
Awalnya terlihat mobil itu tak bisa mengantar kami. Tapi pada akhirnya… justru mobil itulah yang mengantar kami.
Rejeki gak akan kemana. Chill aja.