curhat

Ada Berkah di Balik Lembur yang Menyebalkan

Hari yang Dar-der-dor

Di tengah proyek yang lagi chaos tingkat dewa, tiba-tiba muncul requirement baru yang—jujur saja—seems impossible buat deliver di release berikutnya. Singkat cerita, gara-gara requirement itu, aku ditarik meeting ke gedung di kawasan Thamrin. Perjalanan satu jam di weekdays dari kantor. Sendiri. Macet. Nikmat.

Sampai sana, meeting baru dimulai sejam setelah aku tiba. Dan isinya? Requirement segede gajah. Asam lambung langsung naik. Tapi celakanya, gara-gara meeting ini, target harianku berantakan. Team leader pun nagih: “Ini harus selesai hari ini juga.”

Dan baru ingat—dia udah bilang dari awal, anggota tim nggak usah ikut meeting. Tapi aku lupa. Classic.

Pelajaran dari Ojol

Setelah beres-beres target, aku harus balik ke kantor buat ambil motor dan makan. Di perjalanan, aku naik ojek online. Dan di situlah pertemuan kecil yang mengubah cara pandangku terjadi.

Mas driver ini luar biasa. Bukan karena dia bawa motornya kencang, tapi karena cara dia menjalani hidup. Beberapa hal yang bikin aku speechless:

  1. Dia terus ngejar target harian, nggak peduli jam berapa. Karena dia tahu, target ini yang bakal bikin dia dapet orderan lebih banyak.
  2. Dia punya anak setelah 7 tahun menikah. Tujuh tahun promil. Bayangin perjuangannya.
  3. Dia bikin aku sadar—selama ini aku hidup di atas impiannya. Gaji dua digit di usia muda. Punya anak di tahun kedua pernikahan. Hal-hal yang aku anggap biasa, ternyata adalah mimpi besar buat orang lain.
  4. Dia bersyukur. Meskipun Desember tahun lalu kena PHK dan sekarang harus full-time ngojol, yang penting ada pemasukan. Nggak ada keluhan. Nggak ada drama.

Aku salut. Salut banget.

Sejak malam itu, aku belajar buat lebih bersyukur. Whatever happens, Tuhan selalu kasih pelajaran, kenikmatan, dan keberkahan di balik setiap kejadian—meskipun kelihatannya nggak enak.

Pelajaran Lain

Selain rasa syukur, aku juga sadar satu hal: aku bodoh banget waktu itu. Rela mengorbankan target tanpa tahu apa benefit-nya ikut meeting. Ke depannya, aku harus lebih pikir panjang. Hitung cost and benefit-nya dulu sebelum ambil keputusan.

Kadang, pelajaran paling berharga justru datang dari hari yang paling menyebalkan.