Akhirnya Berani Nulis
Aku nggak inget sejak kapan, tapi rasanya udah lama banget pengen nulis. Dan anehnya, aku juga nggak tau sejak kapan aku sadar kalau nulis itu bakal bikin hidupku lebih baik.
Tapi selama bertahun-tahun, rasa pengen itu cuma numpang lewat. Nggak pernah benar-benar dilakukan.
Butuh Ruang untuk Ekspresi Diri dan Merapikan Pikiran
Seingatku, dari dulu aku adalah orang yang punya banyak ide—dan juga banyak kegelisahan. Sayangnya, keduanya cuma menguap begitu saja, lenyap entah ke mana. Ide-ide yang berseliweran di kepala nggak pernah sempat dieksekusi. Kegelisahan demi kegelisahan nggak pernah ditulis, nggak pernah diurus. Cuma numpang lewat, lalu hilang. Entah kapan bakal muncul lagi.
Aku tahu, dari dulu, aku butuh ruang buat semua itu. Kalau nggak bisa dilakukan, setidaknya bisa diabadikan dalam tulisan. Tapi butuh belasan tahun buat akhirnya berani menuangkannya.
Kenapa Baru Sekarang?
Sejak tahun lalu, sebenarnya aku udah mulai consider buat nulis. Tapi selalu maju-mundur karena alasan klasik:
- Ngerasa udah ketinggalan trend. Bukannya blogging itu trend 5–10 tahun lalu? Sekarang zamannya video pendek, podcast, thread Twitter. Masa iya baru nulis sekarang?
- Ngerasa buang-buang waktu. Paling ujung-ujungnya nggak bisa hasilin duit. Mending fokus sama hal yang lebih produktif, kan?
- Malu. Soalnya—as you can see—aku nggak jago nulis. Gaya bahasanya campur aduk. Struktur kalimatnya amburadul. Masa iya aku nge-publish tulisan kayak gini?
Tapi akhirnya, sekarang aku berani. Bukan karena trend. Bukan karena duit. Tapi karena kepalaku udah mau pecah kalau nggak dikasih ruang buat berekspresi.
Hence, here I am. Yang penting udah berani mulai.
Oh iya, biar nggak diketahui orang terdekat—for now, identitas disembunyikan dulu, ya. Biar bebas nulis tanpa beban.